Rabu, 27 Juli 2016

Haramnya Tathayyur (Anggapan Sial Karena Seseorang Atau Sesuatu)

Haramnya Tathayyur (Anggapan Sial Karena Seseorang Atau Sesuatu)


asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka bertathayyur kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-A’raaf: 131)
Penjelasan per-kata
    Kemakmuran : yakni kebahagiaan, kelapangan, kemudahan, dan kesehatan.
    Ini adalah karena (usaha) kami : Kami yang mengusahakannya dan kami berhak mendapatkannya.
    Kesusahan : yakni kesengsaraan, kesempitan, musibah, dan penyakit.
    Mereka bertathayyur kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya : yakni mereka melemparkan sebab kesialan kepada Musa dan dan orang-orang yang bersamanya. Dan menganggap bahwasanya apa-apa yang datang kepada mereka dari musibah-musibah karena disebabkan adanya Musa dan orang-orang yang bersamanya.
    Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah : yakni apa-apa yang menimpa mereka sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sebelumnya, disebabkan kufurnya mereka dan sikap mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui : yakni tidak mengetahui bahwasanya kebaikan dan keburukan sudah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penjelasan global
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini mensifatkan tentang sikap fir’aun dan kaummnya terhadap Musa dan pengikutnya. Bahwasanya apabila turun kepada mereka suatu keburukan, mereka melemparkan sebab kesialan kepada Musa dan pengikutnya.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan batilnya anggapan mereka dan yang benar adalah bahwasanya apa-apa yang menimpa mereka dari keburukan itu datangnya dari Allah Ta’ala sebagai hasil yang disebabkan kufurnya mereka dan sikap mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa mereka bersikap seperti itu (yakni menyandarkan kesialan kepada orang lain dan tidak merasa bahwa kesialan itu disebabkan dirinya sendiri) disebabkan kebodohan mereka dan ceteknya ilmu mereka bahwa Allah lah yang mentakdirkan kebaikan dan keburukan.
Faidah hadits ini
1. Bahwasanya kebaikan dan keburukan adalah takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Haramnya mengkufuri nikmat.
3. Haramnya bertathayyur dan melemparkan kesialan kepada orang lain.
4. Bahwasanya kebodohan pangkal dari segala keburukan.
Ayat ini menunjukkan atas bahwasanya tathayyur adalah syirik dikarenakan mengikatkan qalbu kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan sebab terjadinya sesuatu bukan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
[Dinukil dari kitab al-Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Penulis asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi, hal. 250-251].
Sumber :

Kamis, 14 Juli 2016

Amalan Sunnah Semasa Syawal dan Sesudahnya

Amalan Sunnah Semasa Syawal dan Sesudahnya


Ramadhan telah meninggalkan kita, kehadiran tamu mulia nan istimewa selama 30 hari kita lalui bersamanya. Pernahkah kita merenung bahwa apakah Ramadhan telah ridha ketika kita meninggalkannya ? atau malah Ramadhan menangis dan menyesal atas jamuan keadaan dan sikap kita kepadanya selama 30 hari tersebut ?

Semoga Allah menerima ibadah yang kita lakukan selama di bulan Ramadhan sebagaimana Allah telah sampaikan kita di bulan Ramadhan dan memberikan taufiqnya kepada kita sehingga mampu melakukan puasa, qiyam dan membaca al-Quran sepanjang waktu siang dan malamnya.

Allah Ta’ala menyiapkan bulan Ramadhan satu bulan penuh dalam 12 tahun untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya umat Islam dapat menabung pahala yang begitu banyak dan besar dengan usia yang tidak banyak dan panjang dibandingkan umat-umat terdahulu. Sehingga walaupun usia umat Nabi Muhammad pendek, namun mampu menandingi pahala-pahala umat-umat sebelumnya yang usianya mencapai ratusan atau bahkan ribuan tahun lamanya.  Terlebih lagi di bulan Ramadhan terdapat malam kemuliaan (Lailatul Qadr), di mana jika beribadah di dalamnya maka seperti kita beribadah selama 1000 bulan atau 80 tahun lebih, lalu bagaimana jika dalam usia 63 tahun kita mendapati lailatul qadr sebanyak 10 atau 20 kali ? maka semua bisa melewati ratusan tahun lamanya atau bahkan ribuan. Dan alhamdulillah, Inilah suatu nikmat besar dan keitimewaan tersendiri yang Allah anugerahi khusus kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita syukuri.

Maka beruntunglah umat Islam yang benar-benar menjalankan haq-haq Ramadhan dengan sungguh-sungguh, dengan fokus, semangat dan ikhlas untuk Allah Ta’ala. Niscaya ia akan keluar dari Ramadhan dalam keadaan suci dan menang, dan patut mendapat ucapan tahinah untuknya. Sayyidina Ali bergumam :

يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنيه، ومن هذا المحروم فنعزيه. وعن ابن مسعود أنه كان يقول: من هذا المقبول منا فنهنيه، ومن هذا المحروم منا فنعزيه
 “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.”[1]

Sebuah maqolah mengatakan :

ليس العيد لمن لبس الجديد انما العيد لمن طاعاته تزيد
“ Hari raya itu bukan lah bagi orang yang memakai pakaian baru, sesungguhnya hari raya itu hanyalah orang yang keta’atannya semakin bertambah “[2]

Amalan yang dianjurkan menjelang Hari Raya.

1. I’tikaf

Para pembaca yang dirahmati Allah, kurang beberapa hari lagi kita akan memasuki hari raya di bulan Syawwal. Sepuluh malam terakhir ini, kita dianjurkan (disunnahkan) untuk memperbanyak i’tikaf di masjid sama ada malam atau pun siangnya terutama di malamnya untuk memburu malam kemuliaan yang lebih utama dari 1000 bulan.

Syarat I’tikaf :

1. Niat. Yaitu dalam hati mengatakan :
نويت الاعتكاف في هذا المسجد لله تعالى
“ Saya niat I’tikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala “

2. Suci dari hadats besar.

3. Berakal. Jika di tengah-tengah I’tikaf dia menjadi gila, maka batal I’tikafnya.

4. Islam

5. Berdiam diri minimal seukuran tuma’ninah sholat dan lebih sedikit ( Sekitar 5 detikkan )

6. Berada di dalam masjid. Maka tidak sah I’tikaf di mushollah, ribath atau pesantren.

Keterangan :

- Menurut madzhab imam Syafi’i I’tikaf cukup dengan diam sejenak dan tidak perlu harus diam selalu. Boleh dengan duduk, berdiri atau mondar-mandir di sekitar dalam masjid. Berbeda dengan madzhab imam Malik dan Abu Hanifah yang mengharuskan I’tikaf tidak kurang dari satu hari. Oleh sebab itu imam Syafi’i menganjurkan I’tikaf tidak kurang dari satu hari agar keluar dari khilaf.

- I’tikaf sah dalam keadaan tidak berwudhu, karena yang disyaratkan hanyalah suci dari hadats besar seperti junub dan haid. Namun tentu lebih afdhal jika dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil.

- Boleh keluar jika ada keperluan semisal buang air besar atau kecil dan tidak perlu mengulangi niat I’tikafnya lagi.

- Juga boleh pulang ke rumah untuk makan kemudian kembali lagi ke masjid untuk melanjutkan I’tikafnya karena makan di dalam masjid sedikit sulit dan juga makan di dalam masjid merupakan bagian dari meninggalkan muru’ah (harga diri).

Ada pendapat di dalam madzhab Hanafi dan bahkan pendapat ini dinilai mu’tamad (kuat) dan boleh diikuti mengingat situasi dan kondisi sekarang ini bagi wanita yang keluar dari rumah sering terjadi fitnah , yaitu :

انه يصح الاعتكاف للمرأة فقط اذا عينت مكانا في بيتها للصلاة, وهو معتمد مذهب الامام أبي حتيفة
“ Sesungguhnya sah bagi perempuan saja, I’tikaf di tempat yang ia khususkan untuk sholat di dalam rumah, dan ini pendapat mu’tamad madzhab imam Abu Hanifah “.[3]

Menurut imam Abu Hanifah sah bagi wanita beri’tikaf di tempat yang ia khususkan untuk sholat di dalam rumahnya karena itu adalah tempat keutamaan semua sholat bagi wanita maka demikian pula I’tikafnya.

Dalam madzhab imam Syafi’i yang qadim pun mengatakan sah sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Bayan,  namun ini khusus bagi wanita adapun laki-laki maka sepakat tidak sah kecuali Ibnu Shabbagh yang berpendapat sah alasannya bahwa amalan nafl (sunnah) laki-laki paling afdhal dilakukan di rumah dan I’tikaf termasuk amalan nafl.

2. Ziarah Kubur menjelang Ramadhan dan Hari Raya 

Pada prinsipnya, ziarah ke makam orang tua, keluarga, guru dan para ulama itu dapat dilaksanakan kapan saja; mau pagi, siang, sore, malam, boleh-boleh saja; hari Senin, Selasa, atau yang lainnya; seminggu sekali, dua kali atau tiga kali, silakan. Sebab inti (hikmah) dari ziarah ialah menebalkan keimanan dengan mengingat mati.

Tentu ini lebih baik ketimbang sepekan berpikir tentang dunia, kekayaan, uang, dan lain sebagainya, yang tidak ada batasnya. Malah dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia ke lembah kesengsaraan. Tidakkah hidup ini sekadar kesenangan yang palsu, bak fatamorgana yang menipu? Kalau kita tidak pandai-pandai melapisinya dengan iman dan ilmu, apa jadinya?

Oleh karena itu, ziarah di bulan suci Ramadhan ataupun di Hari Raya, sekalipun sebenarnya tidak ada perintah dan tidak ada larangan. Dan karena tidak adanya larangan, orang yang suka ziarah mengambil inisiatif alangkah indahnya jika dapat kirim doa pada hari-hari yang penuh rahmat dan ampunan (hari-hari bulan Ramadhan) dan hari yang bahagia (Idul Fithri).

Justru akan sangat bermakna bagi orang-orang yang sedang mudik ke kampung halaman, ia akan merasa tentram jika sebelum minta maaf kepada orang lain ia terlebih dahulu mengunjungi kubur orang tuanya yang (ketepatan) meninggal lebih dulu.

Pada bab tentang merawat jenazah dan problem-problemnya, Imam Suyuthi menukil dari Imam Ibnu Hajar dalan kitab Fatawi-nya yang mengatakan: “Ruh seseorang berkait dengan jasad selama jasad itu masih utuh, kemudian ruh itu lepas menuju Illiyyin atau Sijjin di sisi Allah. Ruh tadi bahkan masih berkait dengan jasad meski jenazah berpindah dari satu kubur ke kubur yang lain.

Imam Harawi dalam Syarh Shahih Muslim dalam hal penjelasan mengenai hari ziarah mengatakan: Tidak ada hadits shahih yang menerangkan ketentuan hari untuk melakukan ziarah kubur dan tidak pula ada pembatasan berapa kali ziarah.

Nah ada keterangan tentang keutamaan ziarah yang dilakukan pada hari Jum’at. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدَيْهِ
Siapa ziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari jum’at, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatat sebagai bakti dia kepada orang tuanya. (HR Hakim)

3. Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أحياء ليلة العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب
“ Barangsiapa yang menghidupkan malam ‘iid, maka hatinya tidak akan mati di hari hati menjadi mati “.

Dalam riwayat Abu Umamah al-Bahili, bahwasanya Nabi bersabda :

من أحياء ليلتي العيدين احيا الله قلبه يوم تموت فيه القلوب
“ Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya fitri dan adha, maka Allah akan menghidupkan hatinya di hari hati menjadi mati “.

Hadits ini dihukumi sebagai hadits yang lemah oleh Imam al-‘Iraqi[4] dan al-Haitsami[5]

Dan banyak lagi riwayat-riwayat lainnya yang semisalnya. Meskipun para ulama menilainya lemah, maka sesuai kesepakatan ulama ahli hadits, mereka mentoleran bahwasanya hadits lemah boleh diamalkan dalam fadhail a’maal.

Berikut pendapat para ulama 4 mazhab :

1. Ulama Hanafiyyah.

Ibnu Nujaim berkata :

ومن المندوبات: إحياء ليالي العشر من رمضان وليلتي العيدين وليالي عشر ذي الحجة وليلة النصف من شعبان كما وردت به الأحاديث وذكرها في الترغيب والترهيب مفصلة والمراد بإحياء الليل: قيامه وظاهره الاستيعاب ويجوز أن يراد غالبه
“ Di antara perkara yang dianjurkan (disunnahkan) adalah, menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan, dua malam hari raya, malam-malam sepuluh dzul hijjah dan malam nsifhu sya’ban sebagaimana telah datang hadit-haditsnya dan menyebutkannya di dalam targhib dan tarhib secara detail. Yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam adalah mendirikannya, secara zahir seluruh malam akan tetapi boleh juga sebagian besar malamnya “.[6]

Ibnu Abidin juga mengatakan :

مطلب في إحياء ليالي العيدين والنصف وعشر الحجة ورمضان: ( قوله وإحياء ليلة العيدين ) الأولى ليلتي بالتثنية: أي ليلة عيد الفطر , وليلة عيد الأضحى  ( قوله والنصف ) أي وإحياء ليلة النصف من شعبان
“ Bab tentang menghidupkan malam-malam hari raya, nisyfu sya’ban, sepuluh dzul hijjah dan sepuluh Ramadhan. (Ucapan : dan menghidupkan dua malam hari raya) sepatutnya ditulis dua malam dengan tatsniyah, yakni malam hari raya idhul fitri dan idhul adha. (Ucapan : Malam separuh) maksudnya adalah menghidupkan malam nisfhu sya’ban “.

Kemudian beliau mengatakan :

وقد بسط الشرنبلالي في الإمداد ما جاء في فضل هذه الليالي كلها فراجعه
“ Sungguh telah menghuraikannya asy-Syarnibla di dalam kitab al-Imdad tentang apa keutamaan malam-malam itu smeuanya, maka pelajarilah “.[7]

2. Ulama Malikiyyah.

Ibnul Hajj mengatakan :

وينبغي للحاج أن يحيي ليلة العيد بالصلاة. وقد كان عبد الله بن عمر يقوم تلك الليلة كلها وكذلك غيره. وقد استحب العلماء ذلك في جميع الأقطار. لما ورد في الحديث { من أحيا ليلتي العيد أحيا الله قلبه يوم تموت القلوب } وذلك بشرط أن لا يكون في المساجد ولا في المواضع المشهورة كما يفعل في رمضان , بل كل إنسان في بيته لنفسه ولا بأس أن يأتم به بعض أهله وولده )
“ Dan sebaiknya bagi orang yang melaksanakan ibadah haji, menghidupkan malam hari raya dihul adha dengan sholat. Abdullah bin Umar menghidupkan malam tersebut seluruhnya demikian juga malam lainnya. Para ulama seluruh pelosok negeri telah menganjurkan hal itu, karena telah datang dalam hadits “ Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya, maka Allah akan menghidupkan hatinya di hari hati menjadi mati “, Itu dengan syarat tidak di dalam masjid dan tidak di tempat-tempat yang tersohor sebagaimana dilakukan di bulan Ramadhan. Akan tetapi setiap orang melakukannya di falam rumahnya masing-masing, dan tidak mengapa dipimpin keluarga atau anaknya “.[8]

Dalam kitab at-Taaj disebutkan :

( وندب إحياء ليلته ) روى أبو أمامة: { من أحيا ليلتي العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب }
“ Dan dianjurkan menghidupkan malam hari raya, Abu Umamah telah meriwayatkan : “ Barangsiapa yang menghidupkan malam ‘iid, maka hatinya tidak akan mati di hari hati menjadi mati “.[9]

Imam as-Suyuthi menaqalkan :

وقال ابن الفرات: استحب إحياء ليلة العيد بذكر الله تعالى والصلاة وغيرها من الطاعات للحديث: { من أحيا ليلة العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } وروي مرفوعا وموقوفا وكلاهما ضعيف لكن أحاديث الفضائل يتسامح فيها. )
“ Ibnu al-Farrat mengatakan : “ Disunnahkan menghidupkan malam hari raya dengan dzikir kepada Allah, sholat dan lainnya dari keta’atan karena ada hadits, “ Barangsiapa yang menghidupkan malam ‘iid, maka hatinya tidak akan mati di hari hati menjadi mati “, dan diriwyaatkan juga secara marfu’ dan mauquf, kedua riwayat itu lemah (dha’if) akan tetapi hadits-hadits berkaitan fadhail a’mal ditoleransi untuk diamalkan “.[10]

3. Ulama Syafi’iyyah.

Dalam kitab al-Umm dsiebutkan :

العبادة ليلة العيدين:أخبرنا الربيع قال أخبرنا الشافعي قال أخبرنا إبراهيم بن محمد قال أخبرنا ثور بن يزيد عن خالد بن معدان عن أبي الدرداء قال: ” من قام ليلة العيد محتسبا لم يمت قلبه حين تموت القلوب “.
قال الشافعي : وبلغنا أنه كان يقال: إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة , وليلة الأضحى , وليلة الفطر , وأول ليلة من رجب , وليلة النصف من شعبان.
أخبرنا الربيع قال أخبرنا الشافعي، قال أخبرنا إبراهيم بن محمد قال: رأيت مشيخة من خيار أهل المدينة يظهرون على مسجد النبي صلى الله عليه وسلم ليلة العيد فيدعون ويذكرون الله حتى تمضي ساعة من الليل , وبلغنا أن ابن عمر كان يحيي ليلة جمع , وليلة جمع هي ليلة العيد لأن صبيحتها النحر.
قال الشافعي :  وأنا أستحب كل ما حكيت في هذه الليالي من غير أن يكون فرضا
“ Ibadah dua malamhari raya : Telah mengbarkan pad akami ar-Rabi’, ia berkata, telah mengabarkan pada kami imam asy-Syafi’i, berkata, telah mengabarkan pada kami Ibrahim bin Muhammad, ia berkata, telah mengabarkan pada kami Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Mi’dan dari Abu Darda, ia berkata, “ Barangsiapa yang berdiri tegak di malam hari raya dengan berharap (pahala Allah), maka hatinya tidak akam mati di hari hati menjadi mati “.Imam asy-Syafi’i mengatakan : “ Telah sampai pada kami, sesungguhnya di katakan, “ Bahwasanya doa dikabulkan di lima malam, yaitu malam Jumaat, malam idhul adha, malam dhul fitri, malam pertama Rajab dan malam separuh Sya’ban “. Kemudian di akhir beliau mengatakan :

“ Dan saya menganjurkan (mensunnahkah untuk mengamalkannya) semua apa yang dihikayatkan dari (keutamaan) malam-malam tersbeut tanpa bersifat fardhu “.[11]

Imam an-Nawawi mengatakan :

قال أصحابنا: يستحب إحياء ليلتي العيدين بصلاة أو غيرها من الطاعات ( واحتج ) له أصحابنا بحديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم: { من أحيا ليلتي العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } وفي رواية الشافعي وابن ماجه: ” { من قام ليلتي العيدين محتسبا لله تعالى لم يمت قلبه  حين تموت القلوب } رواه عن أبي الدرداء موقوفا , وروي من رواية أبي أمامة موقوفا عليه ومرفوعا كما سبق , وأسانيد الجميع ضعيفة
“ Para ulama kami mengatakan, “ Disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya dengan sholat dan keta’atan lainnya. Para ulama kami berhujjah dengan hadits Abu Umamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Barangsiapa yang menghidupkan malam ‘iid, maka hatinya tidak akan mati di hari hati menjadi mati “. Dan di dalam riwayat imam asy-Syafi’i dan Ibnu Majah disebutkan, ““ Barangsiapa yang berdiri tegak di malam hari raya dengan berharap (pahala Allah), maka hatinya tidak akam mati di hari hati menjadi mati “, telah meriwayatkannya Abu Darda secara mauquf dan meriwyatkannya dari riwayat Abu Umamah sevara mauquf atasnya dan marfu’ sebagaimana telah berlalu. Dan sanad-sanad hadits tersebut adalah lemah “.[12]

4. Ulama Hanbaliyyah.

As-Safaraini mengatakan :

في قول الناظم رحمه الله تعالى وخذ بنصيب… إلى آخره إشارة إلى أنه لا يطلب قيام كل الليل. قال علماؤنا: ولا يقومه كله إلا ليلة عيد. هذه عبارة الإقناع
“ Dalam ucapan penadham rahimahullah : “ Dan ambillah dengan bagian….dan seterusnya, adalah suatu isyarat bahwasanya tidak dituntut menegakkan seluruh malam tersbeut. Ulama kami (Hanbaliyyah) mengatakan, “ Tidak dituntut menghidupkan malam secara menyeluruh kecuali malam hari raya saja (maka dituntut menghidupkan seluruh malamnya adapun lainnya hanya sebagian besar malamnya saja), inilah teks dalam al-Iqna “.[13]

Ulama Hanbaliyyah lainnya seperti Ibnu Taimiyyah, al-Bahuti, Ibnu Rajab al-Hanbali dan lainya pun pendapatnya sama seperti di atas.

Kesimpulannya :

Walaupun hadits-haditsnya lemah (dhaif), akan tetapi justru jumhur ulama sebagaimana disebutkan di atas, menganjurkannya untuk diamalkan. Maka semua ini boleh kita amalkan kerana memiliki landasan hujjah dari para jumhur ulama 4 mazhab.

4. Solat Sunnah ‘Idul Fitri.

Hukumnya fardhu kifayah oleh sebagian ulama dan wajib menurut imam Abu Hanifah.

Waktunya : sejak terbitnya matahari di hari raya.

Kesunnahan-kesunnahannya :

1. Mengakhirkan waktu sholat hingga matahari seukuran tombak

2. Melakukannya di masjid jika mencukupi, jika tidak maka boleh melakukannya di tanah lapang terbuka.

3.Wanita-wanita haid dianjurkan untuk mendengarkan khutbah di hadapan pintu-pintu masjid.

4. Mandi, waktunya sejak tengah malam hingga menjelang sholat.

5. Memakai wangi-wangian dan berhias diri. Kesunnahan ini dilakukan sama ada orang yang di rumah, atau keluar menuju masjid, orang tua, muda atau budak-budak kecil, sama ada yang sholat atau pun tidak.

6. Wanita yang tidak memiliki indah dan seksi di sunnahkan untuk keluar ikut sholat hari raya. Adapun pemudi atau wanita yang memiliki tubuh yang indah, hukumnya makruh dan lebih afdhal (utama) mereka melakukan sholat di kalangan sesama mereka di dalam rumah.

7. Datang lebih pagi bagi selain imam.

8. Berangkat dari satu jalan dan pulang dari jalan yang lainnya. Dan dianjurkan berangkat di jalan yang berjarak panjang (lama), karena pahala keberangkatannya lebih besar dari pahala pulangnya.

9. Berbuka (makan) sebelum berangkat sholat idul fitri. Lebih utama dengan kurma dengan jumlah ganjil.

Adapun cara sholat maka sudah maklum dalam kitab-kitab fiqh yang ada.

10. Disunnahkan bertakbir dengan suara keras bagi laki-laki dengan shighat takbir yang sudah masyhur.

Takbir ini terbagi menjadi dua yaitu takbir Mursal dan takbir Muqayyad. Takbir Mursal yaitu takbir yang tidak diikat oleh sholat fardhu, maka melakukannya di setiap saat dan kapanpun. Waktunya sejak terbenam matahari di malam hari raya hingga menjelang takbirotul ihram sholat. Ini berlaku bagi idul fitri dan idul adhah.

Adapun Muqayyad, maka takbirnya hanya terikat setelah sholat fardhu saja, dan ini hanya untuk idul adha saja. Waktunya sejak subuh di hari Arafah sampai ashar di akhir hari tasyrik.[14]

5. Puasa enam hari bulan Syawwal. Berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

من صام رمضان واتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
“ Barangsiapa yang puasa Ramadhan dan diikuti puasa enam hari bulan Syawwal, maka seperti puasa setahun penuh “. (HR. Muslim)

Persoalan : Bagaimana hukumnya menggaungkan niat puasa enam hari bulan Syawwal dengan puasa qadha Ramadhan ?

Jawab : Para ulama berbeza pendapat. Disebutkan dalam kitab Bughyah : Menurut imam Romli mendapatkan pahala keduanya. Sedangkan menurut Abu Makhromah tidak mendapatkan pahala keduanya bahkan tidak sah.

ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً.
“ Zahir hadits “ Dan diikuti puasa enam hari bulan Syawwal “, dan hadits lainnya, menjelaskan tidak akan mendapatkan pahala puasa enam hari jika diniatkan bersamaan dengan puasa qadha Ramadhan. Akan tetapi al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan bahwasanya mendapat asli pahala tersebut, tapi tidak dengan sempurna jika ia meniatkannya seperti yang lainnya berupa ‘Arofah dan Asyura’. Akan tetapi Imam Romli. Imam Romli mengatakan mendapatkan pahala puasa sunnah tersebut dan bahkan pahala puasa wajib (qadha) tersebut walaupun ia tidak meniatkannya……..”[15]

 Sumber :
Shofiyyah an-Nuuriyyah

[1] Lathaif al-Ma’arif, Ibn Rajab al-Hanbali : 187
[2] Kanzun Najah : 104
[3] At-Taqrirat as-Sadidah : bab I’tikaf
[4] Dalam takhrij beliau terhadap hadits-hadits kitab “Ihya’ ‘ulumiddin” (1/361, cet. Darul ma’rifah, Beirut).
[5] Dalam kitab “Majma’uz zawa-id” (2/430)
[6] Al-Bahr ar-Raiq : 2/56
[7] Hasyiah Ibnu Abdiin : 2/25
[8] Al-Madkhal : 1/232
[9] At-Taaj wa al-Iklil : 2/574
[10] Mawahib al-Jalil : 2/193
[11] Al-Umm : 2/264
[12] Al-Majmu’ : 5/36
[13] Ghiza al-Albab : 2/506
[14] At-Taqrirat as-Sadidah : 342-563
[15] Bughyah al-Mustarsyidin : 113

Rabu, 13 Juli 2016

AMALAN UTAMA BULAN SYAWAL


AMALAN UTAMA DI BULAN SYAWAL



Oleh
DR.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I



         Mempertahankan kebiasaan baik amaliah Ramadhan, pada bulan Syawwal dan bulan-bulan seterusnya adalah tanda-tanda berhasilnya amalan ibadah selama Ramadhan. Allah Swt berfirman:
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا
 “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk, dan amal-amal salih yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik sesudahnya. (QS.Maryam,76).
Beberapa amalan positif selama Ramadhan yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan adalah (1) amalan shalat, dalam hal ini adalah membiasakan shalat berjamaah lima waktu di masjid, membiasakan shalat malam (tahajjud) setiap hari, dan membiasakan shalat-shalat sunnah lainnya; (2) amalan puasa (shaum), dalam hal ini adalah membiasakan berpuasa sunnah, seperti puasa Syawwal, puasa Arafah, puasa Asyura, puasa Senin-Kamis, dan puasa-puasa sunnah lainnya; (3) amalan sedekah; (4)  amalan tilawah al-Qur’an; dan (5) amalan thalabul ilmi, gemar menghadiri majelis ilmu.
Khusus di bulan Syawal, beberapa amalan yang disyariatkan antara lain (1) Membayar zakat fitrah sebelum shalat Idul fitri; (2)        Bertakbir dan bertahmid; (3) Melaksanakan Shalat Idul Fitri; (4) Mengucapakan tahni’ah dengan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum”; (5) membantu orang susah, menyantuni anak yatim dan orang miskin; dan (6) Puasa Syawal enam hari.
           Tentang puasa Syawal, adalah berpuasa selama enam hari setelah tanggal satu Syawwal. Dalam hal ini bisa dimulai dari tanggal dua dan seterusnya selama di bulan Syawwal. Di antara keistimewaan puasa pada bulan Syawwal adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan  berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia akan dapat pahala seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim dari Abu Ayub al-Anshari)
Pada hadis ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. (al-Nawawi, Syarh Shahih MuslimVIII/56). Tentang bagaimana cara melaksanakannya, lebih lanjut al-Nawawi  mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa yang paling afdhol (utama) dalam melakukan puasa syawal adalah secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.”
Tentang hikmah melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan beberapa faedah di antaranya: (1) Berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan akan menyempurnakan ganjaran berpuasa setahun penuh; (2) Puasa Syawal dan puasa Sya’ban adalah seperti halnya shalat rawatib qabliyah dan ba’diyah(shalat sunnah sebelum atau seudah shalat wajib lima waktu). Amalan sunnah seperti ini akan menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada dalam amalan wajib. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam amalan wajib. Amalan sunnah inilah yang nanti akan menyempurnakannya; (3) Membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah Ta’ala jika menerima amalan hamba, maka Dia akan memberi taufik pada amalan shalih selanjutnya. Allah Swt berfirman:
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
 “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk,  Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya (QS. Muhammad, 17)
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan. Karena Allah telah memberi taufik dan menolong kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan serta berjanji mengampuni dosa kita yang telah lalu,  maka hendaklah kita mensyukuri hal ini dengan melaksanakan puasa sunnah setelah Ramadhan. Sebagaimana para salaf dahulu, setelah malam harinya melaksanakan shalat malam, di siang harinya mereka berpuasa sebagai rasa syukur pada Allah atas taufik yang diberikan.(Ibn Rajab, Latho’if Al Ma’arif, I/244)Wallahu a'lam bishshawab !

Sumber :