Senin, 14 Desember 2015

KEWAJIBAN MAHRAM BAGI WANITA YANG INGIN PERGI HAJI


KEWAJIBAN MAHRAM
BAGI WANITA YANG INGIN PERGI HAJI

Disusun oleh: Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan




Fatwa Pertama:

Pertanyaan: Lajnah Daimah Lil Ifta’ ditanya:”Apakah boleh wanita menunaikan haji dengan hanya didampingi wanita yang dipercaya, bila wanita tersebut tidak mendapatkan mahram, misalnya bapaknya telah meninggal apakah cukup ibunya, bibinya atau siapa saja menjadi mahram baginya dalam menunaikan ibadah haji?”

Jawab: Tidak boleh wanita menunaikan ibdah haji hanya didampingi oleh wanita walaupun bibi atau ibunya atau laki-laki bukan mahramnya tetapi harus ditemani oleh suaminya atau laki-laki yang masih ada hubungan mahram, jika tidak mendapatkan mahram yang menjadi pendampingnya, maka tidak berkewajiban menunaikan ibadah haji, karena ia tidak dianggap mampu. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“…وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً …”(97) سورة آل عمران

“…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali-Imron: 97).1)

Fatwa Kedua:

Pertanyaan: Lajnah Daimah ditanya:”Akhi yang mulia, saya mempunyai masalah dan saya ingin mendapatkan solusinya dari Allah yang Maha Pengasih terhadap hamba-Nya, yaitu khusus masalah pelaksanaan ibadah haji saya. Selama dua tahun saya telah berniat untuk menunaikan haji dan saya telah berumur 50 tahun, yang menjadi masalah adalah tidak ada mahram yang mendampingi saya, suami saya sibuk dengan urusan dunia yang tidak pernah berniat untuk menunaikan haji, kecuali jika perusahaan tempat kerjanya memberi bonus pergi haji dan yang demikian itu sangat sulit untuk diharapkan, sementara saya takut datang ajal sebelum saya menunaikan haji dan saya takut berdosa, padahal saya sudah memiliki bekal dan kemampuan. Sebetulnya saya mempunyai dua anak laki-laki tetapi salah satunya bertugas di luar negeri dan sibuk dengan urusan persiapan biaya pernikahannya, begitu pula yang satu lagi. Suami putriku juga tugas di luar negeri. Kesimpulannya, semua mahram saya tidak dapat mendampingi dalam menunaikan ibadah haji karena kesibukan. Saya telah berusaha mengajak mereka tetapi selalu tidak bisa. Apakah setelah saya dalam kondisi seperti ini, ada hukum fiqih yang membolehkan saya untuk menunaikan ibadah haji dengan ditemani istri saudara laki-laki saya yang telah meninggal dan bersama beberapa wanita lain? Saya selalu berusaha menjaga hijab dan pakaian saya. Dalam hal ini saya tidak memuji-muji diri sendiri dan perlu diketahui ini adalah haji yang pertama bagi saya?”

Jawab: Apabila kondisi yang saudari sebutkan benar, bahwa suami dan mahram anda tidak dapat menemani anda, maka gugurlah kewajiban menunaikan ibadah haji, karena syarat bagi seorang wanita dalam menunaikan ibadah haji harus didampingi suami atau mahramnya. Maka menurut pendapat ulama yang shahih (=benar) haram bagimu pergi haji atau pergi ke tempat lain tanpa mahram, walaupun dengan ditemani istri saudaramu atau kaum wanita yang dapat dipercaya, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam

لا تسافر امرأة إلا مع ذي محرم (البخاري, مسلم

“Janganlah seorang wanita mengadakan safar (=bepergian jauh) kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhori; Muslim).

Kecuali apabila istri saudara anda tersebut bersama suaminya, maka boleh anda pergi bersamanya karena dia adalah mahram bagi anda. Kerjakanlah amal shalih yang pelaksanaannya tanpa membutuhkan bepergian. Bersabarlah, semoga Alllah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan jalan untuk menunaikan haji bersama suami atau mahrammu.2)

Fatwa Ketiga:

Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu-Syaikh ditanya:”Bolehkah seorang bibi yang telah berumur sekitar 70 tahun tinggal bersama keponakannya yang telah bersuami, dan bolehkah si bibi tersebut pergi haji dengan didampingi suami keponakannya sebagai mahram?”

Jawab: Suamimu tidak dapat menjadi mahram bibimu, dan adapun dia tinggal bersama serumah, maka dibolehkan jika dia tidak melakukan khalwat bersama suamimu tatkala kamu tidak ada.3)

Fatwa Keempat:

Pertanyaan: Lajnah Daimah ditanya:”Saya seorang wanita yang telah menikah dan telah berkeluarga selama empat puluh tahun. Saya meminta izin kepada suami untuk pergi haji dan saya mendapat persetujuan tetapi tatkala datang musim haji atau umroh ia menolak pergi alasannya sibuk mengurusi kambing atau sapid an ia telah haji sebanyak lima kali, sementara saya hingga saat ini belum pernah menunaikan haji, lalu saya memutuskan pergi bersama menantu laki-laki saya. Akan tetapi suami saya tidak memperbolehkan?

Jawab: Apabila kondisi anda demikian, maka anda tidak mungkin menunaikan kewajiban haji dan umroh kecuali setelah mendapatkan mahram. Jika anda telah mendapatkannya, maka diperbolehkan bagi anda untuk menunaikan haji walaupun tanpa mendapat persetujuan dari suami anda, karena meninggalkan haji dalam keadaan mampu diharamkan. Dan tidak boleh seseorang menta’ati makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.4)

Fatwa Kelima:

Pertanyaan: Lanjah Daimah ditanya:”Bagaimana hukumnya wanita pergi haji tanpa mendapatkan izin dari suaminya?”

Jawab: Melaksanakan haji bagi yang mampu adalah wajib walaupun tanpa mendapat izin suaminya, dan tidak berhak suami melarang istrinya untuk menunaikan haji bahkan ia wajib membantunya.5)

Fatwa Keenam:

Pertanyaan: Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya:”Seorang wanita miskin pergi haji dengan ditemani laki-laki bukan mahramnya karena kerabatnya menolak untuk menjadi mahram, lalu ia berangkat bersama seorang laki-laki dan dua perempuan, apakah sah hajinya?”

Jawab: Hajunya sah, akan tetapi ia dianggap maksiat karena ia bepergian tanpa disertai mahram dan dalil-dalil tentang hal tersebut cukup kuat. Oleh karena itu ia harus bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dari perbuatan tersebut.6)

Fatwa Ketujuh:

Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin ditanya:”Ada seorang wanita yang terkenal keshalihannya, umurnya mendekati masa tua dan ia menginginkan haji. Aka tetapi ia tidak memiliki mahram, sementara ada seoarng laki-laki dari daerah yang terkenal baik ingin menunaikan haji bersama beberapa wanita yang masih ada hubungan mahram dengan laki-laki tersebut, apakah boleh wanita tersebut pergi haji bersama mereka, sebab ia tidak mendapatkan mahram yang dapat menemaninya padahal dari sisi harta ia mampu, maka mohon dijelaskan, karena kami berselisih dengan sebagian teman dalam masalah ini?”

Jawab: Tidak boleh bagi wanita itu pergi haji tanpa mahram walaupun bersama beberapa wanita dan seorang laki-laki yang shalih, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya bersabda:

لا تسافر امرأة إلا مع ذي محرم (البخاري, مسلم

“Janganlah seorang wanita mengadakan safar (=bepergian jauh) kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhori; Muslim).

Lalu berdiri seorang laki-laki dan berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya istriku akan pergi haji, sementara aku telah mendaftarkan diri pada suatu peperangan”. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:


انطلق وحج مع امرأتك

“Pergilah dan berhajilah bersama istrimu”

Dalam hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertanya apakah wanita tersebut seorang yang dapat dipercaya atau tidak, ataukah ditemani oleh wanita atau lelaki yang baik, padahal suaminya mendapat panggilan jihad, akan tetapi suaminya diperintahkan meninggalkan jihad dan pergi bersama istrinya. Para ulama berpendapat bahwa apabila wanita tidak mendapatkan mahram, maka tidak wajib menunaikan haji walaupun hingga ia meninggal dan ahli warisnya tidak wajib menghajikan karena ia termasuk dalam kategori tidak mampu, sementara Allah Azza wa Jalla hanya mewajibkan haji bagi yang mampu.7)


Sumber :

1) Fatawa Lajnah Daimah, juz: 11, hal: 91 no. 4909.

2) Fatawa Lajnah Daimah, hal: 7 no. 8392.

3) Fatwa dan Risalah Syaikh Muhammad Ibrohim, 5/196.

4) Fatawa Lajnah Daimah, juz: 11, hal: 19, no. 5659.

5) Fatawa Lajnah Daimah, juz: 11, hal 20, no. 5866.

6) Fatawa Mar’ah, 47.

7) Fatawa Haj Lilsy Syaikh ‘Utsaimin, hal: 48.

Minggu, 13 Desember 2015

Do'a Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist



Do'a Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist



doa pembuka rezeki
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hambaNya yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’).
Dan doa adalah suatu bentuk ibadah agung yang Alloh Ta’ala perintahkan :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(Q.S:Ghaafir: 60)
Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur'an Dan Hadist

Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist

Barangsiapa yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu’ dan berdoa sesuai dengan aturan syariat maka tidak ada penghalang diterima doa tersebut. Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)
Di antara doa doa yang berkaitan dengan Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist adalah sebagai berikut ini:
  1. Diturunkannya rezeki dengan memperbanyak istighfar. Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,
“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”
Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)
Di antara lafadz istighfar yang ada terdapat dalam hadist adalah:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Astaghfirullâh. (HR. Muslim)
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه
Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih. (HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani)
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت
“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. HR. Bukhari.
Lafaz yang terakhir ini merupakan sayyidul istighfar  yaitu sebaik-baiknya istigfar. Karena barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.(HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)
2. Doa memohon limpahan rezeki
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Artinya :
“Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang orang yang bersama kami dan yang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama.” (QS. Al-Maidah/5: 114)
3. Do’a Meminta Kesehatan dan Kelapangan Rizki
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاهْدِني ، وَعَافِني ، وَارْزُقْنِي
Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii.” Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku.
Keutamaan meminta rizki yaitu agar dimudahkan oleh Allah untuk memperolehnya sehingga tidak sampai lalai dari melakukan ketaatan. Rizki itu ada dua macam yaitu yang bisa menegakkan badan dan bisa menguatkan hati. Menguatkan badan yaitu melalui makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Menguatkan hati yaitu melalui ilmu bermanfaat (ilmu diin) dan amalan sholih. Permintaan rizki tersebut mencakup dua macam rizki ini.
4. Doa minta kecukupan rezeki
اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
Artinya :
Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal,  sehingga aku tidak memerlukan yang haram,  dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)
5. Doa agar terlepas dari jeratan hutang
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, pada suatu hari Rasulullah saw. hendak memasuki masjid. Ketika itu beliau mendapati seorang sahabat dari Anshar yang bernama Abu Umamah yang sedang duduk merenung di dalam masjid. Rasulullah saw. bersabda: “Ada apakah gerangan engkau duduk di dalam masjid ketika bukan waktu shalat?” Dia menjawab “Kegelisahan dan pikiran atas hutang yang selalu menyelimutiku wahai Rasul.” Beliau berkata “Maukah aku ajarkan perkataan yang apabila engkau ucapkan maka Allah Azza wa Jalla akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?” Ia menjawab “Iya ya Rasulullah” kemudian Rasul bersabda “Apabila kamu berada di pagi dan sore hari maka ucapkanlah :
اَللّٰهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزْنِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.

Artinya :
“Ya Allah aku berlindung kepa-Mu dari  kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR. Abu Dawud).
Dan Abu Umamah berkata : “Kemudian aku melaksanakannya dan ternyata Allah Azza wa Jalla menghilangkan kegundahanku dan melunaskan hutang-hutangku.” (HR. Abu Dawud)
6. Doa agar menghilangkan kefakiran dan melunaskan hutang
اللّٰهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْـمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيْلَ وَالقُرْآنَ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَالظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَالْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنِّي الدَّيْنَ وَاغْنِنِيْ مِنَ الْفَقْرِ.
Artinya :
“Ya Allah, Tuhan bagi tujuh lapisan langit, juga Tuhan ‘Arasy yang agung. Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Quran. Yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan buah-buahan. Aku mohon berlindung denganMu daripada kejahatan segala suatu yang jahat yang ubun-ubunnya di dalam genggaman-Mu. Engkaulah yang awal, tiada suatu pun yang sebelum Engkau. Engkaulah yang akhir, tiada suatu pun yang selepas Engkau. Engkaulah yang zahir, tiada suatu pun yang di atas Engkau. Engkaulah yang batin, tiada suatu pun yang di bawah Engkau. Tunaikanlah hutangku dan berilah aku kekayaan daripada kefakiran.” (HR. At-Tirmizi dan dinilai Hasan Sahih).
7. Doa Mudah Rezeki dan Terhindar Dari Kekufuran
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ
Artinya :
 “Ya Allah, aku berlindung dari kekufuran, kemiskinan dan siksa kubur.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Abi Syaibah).
Demikianlah beberapa kumpulan doa pembuka rezeki yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadist, semoga artikel tentang Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist dapat menjadi wasilah rezeki anda semakin lancar, barokah dan tentunya halal, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian, wassalam.
Sumber :

Jumat, 11 Desember 2015

PENGERTIAN DAN HIKMAH BERIMAN KEPADA ALLAH

PENGERTIAN DAN HIKMAH BERIMAN KEPADA ALLAH


       Adanya alam semesta ini merupakan bukti bahwa Allah SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menciptakan alam semesta dan yang mengaturnya. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT yang wajib disembah.

   Umat islam meyakini adanya Allah SWT dan mengetahui sifat-sifatnya, agar menjadi mukmin sejati. Dengan modal iman inilah kita akan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.



  1. A.   Pengertian Iman Kepada Allah SWT
    Iman menurut bahasa artinya percaya atau yakin terhadap sesuatu. Iman menurut istilah adalah pengakuan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakan dengan anggota badan. Hal ini sesuai Hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

الايمان معرفة بالقلب و قول باللسا ن و عمل بالاركان (رواه الطبران)



Artinya : “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”(HR Thabrani)

    Dari penjelasan Hadits di atas dapat disimpulkan bahwa iman kepada Allah SWT membutuhkan tiga unsur anggota badan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, yaitu hati, lisan dan anggota badan. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT hanya dalam hati, lisan, hati dan lisan atau anggota badan saja, maka orang tersebut belum bisa dikatakan orang yang beriman.

    Iman kepada Allah merupakan suatu keyakinan yang sangat mendasar. Tanpa adanya iman kepada Allah SWT, seorang tidak akan beriman kepada yang lain, seperti beriman kepada malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul Allah dan hari kiamat.

Firman Allah SWT :

يَا اَيُّهَا الذِيْنَ امَنُوا امِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالكِتَابِ الذِى نَزَّلَ عَلى رَسُولِهِ وَالكِتَابِ الذِى اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكفُرْ بَاللهِ وَمَلئِكَتِهِ وَكتبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الاخِرِِ فقد ضَلَّ ضَلالا بَعِيْدًا ١٣٦
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya, Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS.An Nisa : 136).




  1. B.   Sifat-Sifat Allah SWT
    Allah SWT adalah zat Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas seluruh alam beserta isinya. Allah SWT memiliki sifat wajib, mustahil dan jaiz sebagai sifat kesempurnaan bagi-Nya. Sebagai muslim yang beriman, wajib mengetahui sifat-sifat tersebut.


  1. Sifat wajib, artinya sifat-sifat   yang pasti dimiliki oleh Allah SWT . sifat wajib Allah berjumlah 13.
  2. Sifat mustahil, artinya sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada pada Allah SWT. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib. Jumlahnyapun sama dengan jumlah sifat wajib bagi Allah SWT.
  3. Sifat jaiz, artinya sifat yang mungkin bagi Allah SWT untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Artinya Allah berbuat sesuatu tidak ada yang menyuruh dan tidak ada yang melarang. Sifat jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu “Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu.”
  1. D.   Hikmah Beriman Kepada Allah SWT
     Meyakini kepada Allah SWT dengan sifat-sifat-Nya akan memberikan banyak hikmah diantaranya :

  1. Meyakini kebesaran Allah SWT
  2. Meningkatkan rasa syukur
  3. Selalu menjalankan perinyah-Nya.
  4. Selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan larangan-Nya.
  5. Tidak takut menghadapi kematian

Makkah dan Madinah kota yang tak pernah tidur ?

              Makkah dan Madinah kota yang tak pernah tidur ?




            MAKkah dan Madinah adalah dua kota suci umat Islam yang tak pernah tidur. Setiap saat selama 24 jam ada saja orang yang berlalu lalang, keluar masuk kota ini. Apalagi di sekitar Masjidil Haram di Mekah dan Masjidil Nabawi di Madinah, orang-orang yang berlalu lalang dengan berjalan kaki keluar masuk masjid sangat kentara sekali terlihat. Inilah dua kota suci umat Islam yang dijamin Allah keberkahannya.

             Setiap orang yang beriman pasti sangat merindukan untuk selalu berkunjung ke dua kota suci ini. Andaikan tidak bisa menunaikan ibadah haji, berumrah pun jadilah. Daya tarik apakah yang selalu menyebabkan orang tertarik dan terus ingin berkunjung ke kota ini? Hanya masing-masing oranglah yang bisa menjawabnya. Betapa iman dan takwa umat Islam sudah semakin meningkat di samping perekonomian umat Islam juga sudah semakin membaik. 

            Walaupun kita sangat menyadari betapa banyaknya umat Islam di negara-negara Islam, terutama di kawasan Timur Tengah sedang mengalami gejolak menuju perubahan yang  menimbulkan kesedihan maupun kesengsaraan, namun jumlah jamaah yang berkunjung ke kedua kota  suci ini tidak begitu terpengaruh. Semua jamaah berkunjung dengan beraneka ragam  keinginan maupun persoalan yang dibawanya. 

            Sungguh kita melihat kekhusyukan sangat luar biasa bagi kebanyakan para jamaah. Mereka benar-benar seolah-olah berlomba untuk menjadi yang terbaik. Setiap ada peluang dan kesempatan mereka tidak segan-segan untuk berdesak-desakan, terutama di tempat-tempat utama dan diutamakan seperti taman Rauda di Masjid Nabawi  dan Muntazam di Kaabaitullah. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya kita bisa berbaris untuk mencium Hajar Aswad , maka pada tahun ini mungkin agak sulit untuk dilakukan tanpa melalui perebutan dan perjuangan keras. Jumlah jamaah sangat luar biasa ramainya. Di depan pintu Kakbah kita akan melihat orang-orang silih berganti bergelayutan dengan isak tangis yang kadang kala sangat keras terdengar dengan berbagai bahasa yang diucapkan. Mereka kelihatannya benar-benar ingin menumpahkan kata hati dengan mengadu nasib ke hadirat Allah, sebagai pemegang takdir kehidupan manusia.

             Selama 24 jam tanpa henti orang-orang bergerak mengelilingi Kakbah. Kalau dilihat dari lantai atas, kita akan membayangkan  betapa semua umat manusia di sekitar Kakbah itu bagaikan benda angkasa yang juga sedang melakukan hal yang sama, mereka beredar menurut garis edar yang ditentukan Tuhannya. Sungguh meruntunglah manusia-manusia yang dapat melaksanakan perintah Tuhan. Mereka tunduk, patuh, taat kepada perintah Allah secara suka rela atau pun dengan terpaksa. Semua makhluk maupun semua benda pada hakikatnya tunduk atas takdir dan kehendak Tuhannya.

             Daya tarik utama yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,  tentulah ibadah itu sendiri sebagai pengalaman batin anak manusia. Setiap orang pasti dapat menikmati keindahan ibadah sesuai dengan anugerah yang diberikan Allah kepadanya. Mereka sedang menemukan sesuatu berupa kedamaian, ketenangan dan ketenteraman jiwa yang sangat luar biasa tatkala dapat melaksanakan perintah Allah. Hal inilah agaknya yang menjadi rahasia antara mereka dengan Tuhan Sang Penciptanya.

             Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, merupakan dua tempat yang tidak ada tandingan dan bandingan di negeri mana pun. Di sini Allah menjamin keamanan dan kedamaian bagi siapa saja yang berkunjung. Apalagi bagi orang-orang yang suka berzikir dan beramal saleh di dalamnya. Mereka juga membaca Alquran berjuz-juz setiap hari dan setiap malam, seolah-olah tidak ada habisya. 

            Selain melakukan ibadah, juga ada unsur wisata di dalam kegiatan ibadah ini. Itulah agaknya yang dimaksud dengan wisata religius. Sambil kita beribadah, kita juga sekaligus berwisata, dengan melihat keindahan alam dan buatan manusia. Berbagai produk ditampilkan di sekitar kedua masjid ini. Apapun yang kita inginkan yang bersifat halal ada di sini, baik buatan Jepang, Jerman maupun negara lainnya. Mereka seolah-olah berlomba untuk mengisi keperluan  umat Islam walaupun mereka sendiri tidak diiizinkan untuk berkunjung ke sini, kecuali bagi yang muslim.

           Janji Allah kepada Nabi Ibrahim AS memang terbukti. Semua keperluan  manusia ada di kedua kota ini, baik buah-buahan, pakaian maupun segala jenis barang elektronik. Kedua kota ini memang termasuk kota yang termakmur di dunia. Semua orang yang datang pasti membawa uang dan juga membeli barang serta berbagai fasilitas yang dia perlukan.

          Setelah Salat Tahajud selesai tentu saja akan ditutup dengan doa  dan  para jamaah kemudian akan dituntun untuk menonton film-film dokumentasi yang berisikan ayat-ayat kauniah. Kita bisa melihat keindahan alam dan pesona budaya sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang saat ini. Kita sebenarnya harus memahami bahwa ayat-ayat Allah itu bukan hanya Alquran, melainkan juga alam semesta sebagai ayat-ayat Allah yang tidak tertulis. Melalui Alquran, kita dapat memahami betapa Allah sudah memerintahkan kita semua untuk selalu berfikir mengenai alam semesta yang ada di sekeliling kita. Pada hahekatnya semua itu adalah ayat-ayat Allah yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah, Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa.

          Setelah kita memahami ayat-ayat Allah yang tidak tertulis, kita juga akan diberi kesempatan untuk membaca terjemahan Alquran. Terjemahan Alquran juga perlu kita baca, karena kita sebagai orang yang lahir di Indonsia kadangkala tidak memahami bahasa Arab, sehingga kita tidak paham apa yang kita baca kemaren.  Dengan membaca terjemahan Alquran, maka berarti kita sudah berupaya untuk memahami isi kandungan Alquran. 

          Setiap orang yang membaca terjemahan Alquran tentu memiliki kemampuan yang berbeda-beda sesuai dengan pintu hati yang dibukakan Allah baginya. Ada yang dengan mudah memahami, namun ada pula yang sulit untuk dipahami walaupun sudah dibaca berulang-ulang. Untuk itu kita perlu berdoa kehadirat Allah sekaligus berupaya kiranya Allah membukakan pintu hati  bagi sehingga mudah bagi kita untuk memahami isi kandungan Alquran. Dengan upaya yang serius dan sungguh-sungguh, insya Allah, Allah akan membukakan pintu hati bagi kita semua. Allah tidak akan menilai hasil melainkan upaya. Upaya itulah yang dinilai Allah sedangkan hasil, hanya  Allah-lah yang menentukannya. Wallahu alam 

http://riaupos.co/kolom.php?act=full&id=242&kat=4#.VmqaB9J97IU
www.farnaztour.com

Kamis, 10 Desember 2015

DAHSYATNYA BERKAH HARI JUM’AT

DAHSYATNYA BERKAH HARI JUM’AT


            Memang benar dalam QS. Al-Ashr bahwasannya Manusia itu berada dalam kerugian bila tidak memanfaatkan waktunya, Waktu tidak akan bisa dibeli bahkan dikembalikan. Celakalah bagi manusia yang tidak memanfaatkan waktunya.
            Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik hari ketika matahari terbit adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam diturunkan dari surga, pada hari itu pula taubatnya di terima, pada hari itu juga ia wafat, pada hari itu Kiamat akan terjadi dan tidak ada satupun binatang melata kecuali mereka menunggu pada hari Jum’at sejak shubuh sampai terbit matahari karena takut akan datangnya hari Kiamat, kecuali Jin dan manusia.”(HR. Abu Dawud, Shahih)
            Hari Jumat merupakan hari yang sangat istimewa dalam Islam. Seperti yang kita ketahui bersama, ada banyak hadits yang menjelaskan tentang keberkahan hari jum'at. Berikut hadist-hadist yang menyebutkan keberkahan hari Jumat.
            Dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, maksudnya: “Sebaik-baik hari yang terbit matahari ialah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu juga dia dikeluarkan dari syurga. Pada Jum’at juga kiamat akan berlaku. Pada hari itu tidaklah seorang yang beriman meminta sesuatu daripada Allah melainkan akan dikabulkan permintaannya.” [HR Muslim]
             Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari Jum‘at adalah penghulu segala hari dan hari yang paling besar di sisi Allah Subhanhu wa Ta ‘ala yaitu hari yang lebih besar daripada hari raya Adha dan hari raya Fitrah, pada hari Jum‘at itu terdapat lima kejadian yaitu hari yang dijadikan Adam ‘alaihissalam dan Baginda di turunkan daripada syurga ke muka bumi, dan pada hari itu juga wafatnya Adam ‘alaihissalam, dan Allah mengurniakan satu saat di mana do’a-do’a dikabulkan kecuali do’a-do’a maksiat, dan hari Jum‘at juga akan terjadinya hari Kiamat.” [HR Ibnu Majah]
              Rasulullah sallallahu.’alaihi.wasallam bersabda, “Sesungguhnya harimu yang paling utama adalah hari Jum’at. Maka perbanyakkanlah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawatmu ditunjukkan kepadaku. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami ditunjukkan kepadamu sedangkan tubuhmu telah hancur? Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam menjawab: Sesungguhnya Allah mengharamkan tubuh para Nabi bagi bumi (tidak hancur).” [HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah]
               Rasulullah bersabda maksudnya : “Barang siapa yang berwudhu dan kemudian dia pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah dibacakan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jum’at itu dan hari Jum’at berikutnya.” [HR Muslim]
               Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Pada hari Jum’at terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba Muslim memohon sesuatu kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkannya. Carilah ia di akhir waktu selepas asar.” [HR Abu Daud]
               Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang Muslim itu meninggal dunia pada hari jum’at atau pada malam Jum’at melainkan Allah menyelamatkannya dari fitnah kubur (soalan di dalam kubur).” [HR At-Tirmizi]
               Rasulullah sallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan, semuanya adalah penghapus dosa-dosa di antara kedua-duanya selagi mana dijauhi dosa-dosa besar.” [HR Muslim]
Demikian artikel ini kami terbitkan, semoga bermanfaat bagi sahabat farnaz sekalian. Selamat hari jum'at.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sumber :